
Ini gambar telur setengah matang, kalau nonton filmnya pasti langsung ngerti... hehe
Ini postingan pertama gue di tag “Indie Indonesia”… awalnya ide bikin tag baru terlintas ketika kaskus bikin sub forum indie movie dan gue mendaftar ke sana. Ternyata sub forum itu sudah lama berdiri dan gue telat, soalnya tiap ngaskus nyamperinnya Lounge terus
Nah pas gue cek, ternyata banyak banget temen-temen yang sudah posting filmnya disana, dan ada yang bagus, ada yang jelek, ada yang kategorinya film indie, ada yang kategorinya film amatir. Tapi pokoknya gue menghargai semua usaha mereka, soalnya gue belum berani bikin film sendiri… baru sebatas video klip
Nah, akhirnya gue pikir salah satu cara gue menghormati jerih payah mereka adalah dengan membahasnya di sini, meski tidak dengan mendalam apalagi penuh teori, tapi setidaknya gue sudah mau nonton, sudah mau mengamati, dan gue juga bisa belajar banyak dari karya-karya mereka.
Lalu film pertama yang “beruntung” terpilih oleh gue adalah Pria Punya Cerita karya Donnie Petrucie. Dengan durasi 11 menit, dan terbagi 3 chapter… film ini banyak dibangun oleh narasi… euh, siapa ya? Sebenarnya gue juga nggak tahu sih siapa nama tokoh utamanya, pokoknya cowok deh, dan narasi ini mengambil seolah-olah itu suara hatinya. Inti filmnya menurut gue, kalau dibikin kalimat adalah:
Wew, satu kata buat film ini: Briliant! Serius, tadinya gue merasa agak pesimis ketika ada teman yang menyarankan gue buat nonton. Itu karena gue memang berpikir apa mungkin ada film yang enak ditonton 90 menit, tapi setingnya hanya kondisi seseorang di dalam peti mati? Nilai 7,1 di IMDb belum tentu masuk di benak gue. Soalnya gue bicara soal kenyamanan menonton, kadang film yang nilainya tinggi malah nggak cocok di selera beberapa orang. Sebaliknya yang bernilai rendah kadang malah enjoy dilihat
Oke, kembali ke film… Ternyata Buried (Rodrigo Cortes, 2010) membuktikan bahwa gue salah. Sebuah film dengan hanya satu aktor yang tampil di layar selama 90 menit ternyata bisa menarik, dan ketika gue bilang satu aktor (diulang: SATU aktor) itu nggak main-main. Karena sepanjang film kita cuma lihat perjuangan mencari kehidupan dari orang yang bernama Paul Conroy, seorang supir truk berkebangsaan USA yang lagi kerja nganter-nganterin perbekalan tentara Amerika yang tugas di Irak. Tokoh Paul ini diperankan oleh Ryan Reynolds.

Ngerokok mbak? ga takut kanker paru-paru? / kan gue udah mati... BEGO lu!
Cerita tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron “religius”, pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa “pesan” yang sangat berbeda. Di tengah hujan doa pengusiran, Anita (Suzanna) masih sempat mengucapkan ancaman. “Dengar pesanku ini! Barangsiapa yang merampok, memperkosa, dan melanggar hukum, ingat, aku pasti akan datang untuk mencabut nyawanya…” Anita lalu memandang suaminya, Sandy (George Rudy), menitipkan pesan untuk anak-anaknya, lalu pergi, kembali ke alam-Nya.
Itu adalah petikan adegan akhir dari film Telaga Angker, yang entah telah berapa kali tayang ulang di teve. Penayangan itu tampaknya ingin mengiringi kemarakan sinetron “religius” yang berceritakan tentang kebangkitan mayit. Dan, menonton film-film produksi tahun 1980-an ini, nyaris seperti melihat tayangan sinetron yang saban malam “berkejaran” di tiap stasiun. Ya, secara teknik visual…